Kehilangan dan berduka merupakan bagian integral dari kehidupan. Kehilangan adalah suatu kondisi yang terputus atau terpisah atau memulai sesuatu tanpa hal yang berarti sejak kejadian tersebut. Kehilangan mungkin terjadi secara bertahap atau mendadak, bisa tanpa kekerasan atau traumatik, diantisispasi atau tidak diharapkan/diduga, sebagian atau total dan bisa kembali atau tidak dapat kembali.
Tahapan kehilangan merupakan lumrah terjadi pada setiap manusia, ialah sebagai berikut:
Fase-fase kehilangan dan berduka :
Menurut Kubler-rose :
1. Fase penyangkalan(Denial)
Fase ini merupakan reaksi pertama individu terhadap kehilangan atau individu tidak percaya.menolak atau tidak menerima kehilangan yang terjadi. Pernyataan yang sering diucapkan adalah “ itu tidak mungkin” atau “saya tidak percaya”. Seseorang yang mengalami kehilangan karena kematian orang yang berarti baginya,tetap merasa bahwa orang tersebut masih hidup. Dia mungkin mengalami halusinasi, melihat orang yang meninggal tersebut berada di tempat yang biasa digunakan atau mendengar suaranya.
Perubahan fisik: letih, pucat, mual, diare, gangguan pernafasan, lemah,detak jantung cepat, menangis, gelisah.
2. Fase marah (anger)
Fase ini dimulai dengan timbulnya kesadaran akan kenyataan terjadinya kehilangan individu menunjukkan perasaan marah pada diri sendiri atau kepada orang yang berada dilingkungannya.
Reaksi fisik yang terjadi pada fase ini antara lain, muka merah, nadi cepat, susah tidur, tangan mengepal, mau memukul, agresif.
3. Fase tawar menawar (bergaining)
Individu yang telah mampu mengekspresikan rasa marah akan kehilangan nya ,maka orang tersebut akan maju ketahap tawar menawar dengan memohon kemurahan TUHAN, individu ingin menunda kehilangan dengan berkata ”seandainya saja saya hati-hati” atau “kalau saja kejadian ini bisa ditunda. Maka saya akan sering berdoa”.
4. Fase depresi
Individu berada dalam suasana berkabung,karena kehilangan merupakan keadaan yang nyata, individu sering menunjukkan sikap menarik diri,tidak mau berbicara atau putus asa dan mungkin sering menangis. Individu bisa saja menjadi sangat tidak berdaya dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai pada tahap berikutnya.
5. Fase penerimaan (acceptance)
Pada fase ini individu menerima kenyataan kehilangan, misalnya : "ya, akhirnya saya harus di operasi, apa yang harus saya lakukan agar saya cepat sembuh,"
tanggung jawab mulai timbul dan usaha untuk pemulihan dapat lebih optimal. secara bertahap perhatiannya beralih pada objek yang baru,dan pikiran yang selalu terpusat pada objek atau orang yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Jadi, individu yang masuk pada fase penerimaan atau damai, maka ia dapat mengakhiri proses berduka dan mengatasi perasaan kehilangan nya secara tuntas.
Tahapan tersebut bisa terjadi secara berurutan ataupun secara acak. Kita sebagai manusia sesama hendaknya tidak memaksakan karena tahapan seseorang berbeda-beda. Sebaiknya kita hargai dan membantu mensuport agar individu bisa melalui tahapan secara normal dan bisa melalui semua fase secara bijak. Karena yang kita miliki di dunia tidak lah abadi. Semua fase diatas pasti kita akan lalui, siap tidak siap. Mau tidak mau. Tergantung dari cara apa, dan bagaimana kita menghadapi semuanya dengan ikhlas dan lapang dada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar